Beranda Khazanah Kota Jakarta Barat Intip Cara Sidoarjo Kelola Sampah
Khazanah Kota

Jakarta Barat Intip Cara Sidoarjo Kelola Sampah

Billy . 06 September 2026, 08:25 WIB 4 mnt baca 7 dibaca
M. Bahrul Amig saat menerima kunjungan dari Pemkot Jakarta Barat
M. Bahrul Amig saat menerima kunjungan dari Pemkot Jakarta Barat
Bagikan:


SuaraSidoarjo.com – Bau menjadi salah satu persoalan yang lekat dengan tempat pemrosesan akhir (TPA). Namun, di TPA Griyo Mulyo Sidoarjo, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat menemukan pendekatan berbeda. Ada teknologi Eco Lindi yang diterapkan untuk membantu mengatasi persoalan bau sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan di kawasan TPA.

Temuan itu menjadi salah satu perhatian rombongan Pemkot Administrasi Jakarta Barat saat melakukan studi tiru pengelolaan sampah di Kabupaten Sidoarjo, Jumat (4/9/2026).

Rombongan dipimpin Wali Kota Administrasi Jakarta Barat Iin Mutmainnah. Mereka diterima Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sidoarjo Dr. Moh. Bahrul Amig, S.Sos., M.M., bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo Arif Mulyono, S.STP., M.HP.

Dari Kantor DLHK Sidoarjo, rombongan kemudian bergerak ke lapangan. Tujuannya dua titik. Yakni TPS 3R Pelangi di Desa Ketajen, Kecamatan Gedangan, dan TPA Griyo Mulyo.

Dua lokasi itu memperlihatkan dua sisi pengelolaan sampah. Dari hulu, sampah mulai dikurangi dan diolah melalui TPS 3R. Di hilir, sampah yang tersisa ditangani di TPA.

Pola berjenjang tersebut yang menjadi perhatian Iin. Menurut dia, persoalan sampah tidak bisa seluruhnya dibebankan kepada TPA. Semakin banyak sampah yang bisa dikurangi sejak sumbernya, semakin ringan pula beban tempat pemrosesan akhir.

“Penting sekali menguatkan pengurangan sampah atau pengolahan sampah itu dari TPS 3R,” ujar Iin.

Bagi Jakarta Barat, pengalaman Sidoarjo itu menjadi referensi penting. Terutama untuk memperkuat pengelolaan sampah di tingkat wilayah.

Iin menyebut, keberadaan TPS 3R dapat menjadi salah satu simpul penting. Sampah tidak langsung dikirim ke TPA, tetapi terlebih dahulu dipilah dan diolah sesuai jenisnya.

Dari TPS 3R, rombongan kemudian melihat sisi lain yang tak kalah menarik: TPA Griyo Mulyo.

Di lokasi itu, teknologi Eco Lindi menjadi salah satu hal yang mencuri perhatian. Cairan tersebut digunakan dalam pengelolaan di kawasan TPA dan antara lain diaplikasikan dengan cara disemprotkan untuk membantu mengurangi bau.

“Yang menarik di sini, ada cairan Eco-Lindi yang disemprotkan untuk menghilangkan bau,” kata Iin.

Kunjungan tersebut rupanya tidak berhenti pada melihat dan mencatat. Jakarta Barat sudah menyiapkan rencana tindak lanjut.

Iin mengatakan pihaknya berencana mengembangkan TPS 3R percontohan di Meruya Selatan. Konsep tersebut akan dikembangkan dengan membawa pembelajaran yang didapat selama berkunjung ke Sidoarjo.

“Insyaallah kami akan menjadikan ini sebuah semangat untuk membentuk atau membangun TPS 3R percontohan yang berada di Meruya Selatan dengan kolaborasi dan aksi nyata setelah itu,” ujarnya.

Bagi Iin, studi tiru tersebut menjadi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana sebuah daerah mengelola sampah dari tingkat lingkungan hingga TPA. Pengalaman lapangan dinilai lebih mudah menjadi referensi untuk kemudian disesuaikan dengan kondisi Jakarta Barat.

Di sisi lain, Sidoarjo tidak menempatkan diri sebagai daerah yang sudah selesai dengan persoalan sampah.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sidoarjo Bahrul Amig mengatakan kunjungan tersebut justru menjadi ruang bertukar pengalaman. Sidoarjo berbagi apa yang telah dilakukan, sementara pengalaman Jakarta Barat juga dapat menjadi bahan pembelajaran.

Pandangan serupa disampaikan Kepala DLHK Sidoarjo Arif Mulyono.

Menurut Arif, urusan sampah terlalu kompleks jika hanya ditangani pemerintah. Perlu keterlibatan masyarakat, pengelola lingkungan, pemerintah desa atau kelurahan, hingga perangkat daerah.

Dia juga menegaskan bahwa Sidoarjo tidak merasa sebagai daerah yang paling baik dalam urusan persampahan.

“Sidoarjo merasa kita pun juga tidak yang terbaik. Ini akan berkolaborasi bahwa teman-teman juga membawa ilmu yang bisa kita adopsi untuk bisa kita optimalkan dalam pengelolaan sampah di Sidoarjo,” jelas Arif.

Pernyataan itu menjadi penting. Sebab, persoalan sampah di setiap daerah tidak pernah benar-benar sama.

Karakter masyarakat berbeda. Kepadatan permukiman berbeda. Pola konsumsi berbeda. Demikian pula dengan kemampuan infrastruktur dan sistem pengangkutan.

Karena itu, menurut Arif, praktik dari daerah lain tidak bisa sekadar ditiru mentah-mentah. Harus ada penyesuaian dengan kondisi setempat.

Dalam konteks itulah TPS 3R menjadi penting. Pengurangan dan pemilahan dari sumber diharapkan dapat memangkas volume sampah yang harus dibawa ke TPA. Pada saat yang sama, masyarakat didorong ikut mengambil peran. (*)


Image description
Image description
Billy .

Billy .

Redaktur / Jurnalis

Berita Terkait

Komentar Warga (0)

Belum ada tanggapan. Jadilah warga pertama yang memberikan komentar!

Tulis Tanggapan Anda

Opini Anda mencerminkan warga yang cerdas. Komentar spam/SARA akan dimoderasi.