Beranda Khazanah Kota PESAN BUPATI SUBANDI UNTUK PENDONOR DARAH: JANGAN PERNAH LELAH BANTU SESAMA
Khazanah Kota

PESAN BUPATI SUBANDI UNTUK PENDONOR DARAH: JANGAN PERNAH LELAH BANTU SESAMA

uzi 20 September 2026, 01:05 WIB
Bupati Subandi menyampaikan penghargaan tinggi bagi para pendonor darah yang sudah berkali-kali membantu sesama. (Foto: Kominfo Sidoarjo)
Bupati Subandi menyampaikan penghargaan tinggi bagi para pendonor darah yang sudah berkali-kali membantu sesama. (Foto: Kominfo Sidoarjo)
Bagikan:

SUARASIDOARJO.com -Pendopo Delta Wibawa, Sabtu, 19 September 2026. Sejumlah pendonor darah menerima penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Mereka bukan penerima hadiah karena sebuah perlombaan. Mereka dihargai karena sesuatu yang dilakukan berulang kali: memberikan darah kepada orang yang bahkan mungkin tidak pernah mereka kenal.

Di antara para pendonor itu terdapat Joko Murdopo. Usianya 64 tahun. Catatan donor darahnya sudah mencapai 128 kali.

Bagi Joko, donor darah bukan kegiatan yang dilakukan sesekali. Ia menjalaninya seperti kebiasaan yang sudah melekat dalam kehidupan. Ketika masih muda, ia mendonorkan darah setiap tiga bulan. Setelah berusia lebih dari 60 tahun, frekuensinya menjadi empat bulan sekali.

“Alhamdulillah saya rutin tiap empat bulan sekali karena usia sudah 60 tahun ke atas. Kalau dulu saat masih muda ya tiga bulan sekali,” kata Joko.

Ia bahkan merasa ada sesuatu yang kurang ketika jadwal donor terlewat. “Sejak rutin donor darah itu badan lebih sehat. Justru jika libur tidak donor darah, badan saya ada yang kurang,” ujarnya.

Joko bukan satu-satunya. Pada peringatan HUT ke-81 Palang Merah Indonesia (PMI), Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memberikan tanda penghargaan kepada 5.268 pendonor darah sukarela. Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi atas konsistensi mereka menyumbangkan darah untuk kepentingan kemanusiaan.

Jumlah tersebut terdiri atas pendonor dengan frekuensi donor yang berbeda-beda. Sebanyak 3.650 orang telah mendonorkan darah 10 kali. Sebanyak 1.396 orang mencapai 25 kali donor. Ada pula 139 orang yang telah donor 50 kali, 50 orang sebanyak 75 kali, 18 orang sebanyak 100 kali, dan 15 orang mencapai 125 kali donor.

Penghargaan diserahkan secara simbolis oleh Bupati Sidoarjo Subandi kepada sejumlah pendonor dengan jumlah donor terbanyak di Pendopo Delta Wibawa.

Bagi mereka yang telah mencapai 125 kali donor, penghargaan tidak hanya berupa tanda apresiasi. Mereka memperoleh sepeda olahraga. Benda itu menjadi simbol penghormatan atas ketekunan para pendonor yang terus menyisihkan sesuatu dari tubuhnya untuk kepentingan orang lain.

Darah adalah barang yang tidak dapat dibuat di pabrik. Ia hanya bisa diperoleh dari manusia yang bersedia memberikannya. Karena itu, di balik setiap kantong darah terdapat keputusan sederhana seorang pendonor: datang, menjalani pemeriksaan, lalu membiarkan sebagian darahnya mengalir untuk orang lain.

Bupati Sidoarjo Subandi mengatakan peran PMI tidak berhenti pada kegiatan donor darah. Organisasi itu memiliki fungsi penting dalam pelayanan kemanusiaan, termasuk ketika terjadi bencana dan kecelakaan. Darah yang aman dan berkualitas menjadi bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat.

“Terima kasih kepada seluruh relawan dan pendonor yang telah memberikan sumbangsih kemanusiaan. Donor panjenengan sangat berarti untuk menyelamatkan masyarakat Sidoarjo yang membutuhkan,” kata Subandi.

Ia meminta para pendonor tidak berhenti memberikan dukungan kepada PMI. Menurut dia, relawan yang sehat menjadi salah satu kekuatan untuk menjaga keberlanjutan kegiatan donor darah.

“Jangan lelah untuk terus memberikan support dan dukungan. Semoga panjenengan semua selalu sehat sehingga dapat terus mendonorkan darah dan membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Subandi juga mengingatkan agar penghargaan tidak dilihat dari bentuk atau nilai cenderamata yang diterima. Makna utamanya, kata dia, terletak pada kepedulian yang membuat seseorang bersedia membantu orang lain.

“Penghargaan ini jangan dipandang dari nilainya. Yang terpenting adalah bagaimana kita masih terpanggil untuk membantu keluarga dan masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, menurut Subandi, akan terus mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Penguatan fasilitas rumah sakit dan puskesmas menjadi bagian dari upaya tersebut. Dukungan terhadap PMI diharapkan berjalan beriringan dengan peningkatan pelayanan kesehatan di daerah.

“Kalau relawannya sehat, PMI juga akan semakin kuat. Mari terus kita jaga semangat kemanusiaan ini. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mengucapkan terima kasih atas seluruh sumbangsih para pendonor,” ujar Subandi.

Darah yang Terus Dibutuhkan

Ketua Pengurus PMI Sidoarjo Andjar Surjadianto mengatakan kebutuhan darah di daerah itu terus meningkat seiring dengan bertambahnya pelayanan kesehatan.

Jumlah penduduk Sidoarjo sekitar 2.215.288 jiwa. Berdasarkan kebutuhan ideal yang disebut sekitar dua persen dari jumlah penduduk, kebutuhan darah berada pada kisaran 44.300 kantong.

Angka kebutuhan aktual bahkan lebih tinggi.

Pada 2024, kebutuhan darah mencapai sekitar 58 ribu kantong. Setahun kemudian, pada 2025, kebutuhan itu berada di sekitar 57.750 kantong.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan darah tidak berhenti pada angka ideal. Rumah sakit, puskesmas, pasien kecelakaan, korban bencana, serta mereka yang membutuhkan tindakan medis tertentu tetap memerlukan pasokan darah.

Karena itu, partisipasi masyarakat menjadi penting. Darah yang disumbangkan seorang pendonor hari ini bisa saja digunakan untuk seseorang yang membutuhkan transfusi beberapa waktu kemudian.

“Namun realisasinya kebutuhan darah mencapai sekitar 58 ribu kantong pada 2024 dan sekitar 57.750 kantong pada 2025. Partisipasi aktif masyarakat melalui donor darah sukarela menjadi faktor penting sehingga kebutuhan darah masyarakat dapat terpenuhi,” kata Andjar.

Donor darah, menurut Andjar, dapat dilakukan secara rutin hingga lima kali dalam setahun atau sekitar dua bulan sekali, dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan dan ketentuan medis yang berlaku.

Ada angka yang dicatat dalam daftar penghargaan. Sepuluh kali. Dua puluh lima kali. Lima puluh kali. Tujuh puluh lima kali. Seratus kali. Hingga 125 kali.

Namun di balik angka-angka itu terdapat kebiasaan yang jauh lebih sederhana: datang dan mendonorkan darah.

Joko sudah melakukannya 128 kali.

Pada usia 64 tahun, ia masih datang ketika waktunya tiba. Empat bulan sekali. Bukan karena mengejar penghargaan. Bukan pula karena mengharapkan imbalan.

Ia hanya merasa perlu melakukannya.

Sebab bagi seorang pendonor, darah yang mengalir dari tubuhnya mungkin hanya sebagian kecil dari miliknya. Tetapi bagi orang yang menunggu transfusi, darah itu bisa berarti sesuatu yang jauh lebih besar.

Andjar berharap semakin banyak warga Sidoarjo mengikuti jejak para pendonor sukarela. Dengan begitu, persediaan darah yang aman dan berkualitas dapat terus terjaga.

“Semoga semakin banyak warga yang tergerak menjadi pendonor darah sukarela sehingga ketersediaan darah yang aman dan berkualitas dapat terus terjaga untuk menyelamatkan masyarakat Sidoarjo,” katanya. (SS)

uzi

uzi

Redaktur / Jurnalis

Komentar Warga (0)

Belum ada tanggapan. Jadilah warga pertama yang memberikan komentar!

Tulis Tanggapan Anda

Opini Anda mencerminkan warga yang cerdas. Komentar spam/SARA akan dimoderasi.